Lampung
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata Lampung?
Gajah? Siger? Keripik Pisang Coklat? Begal? Atau ada yang lain?
Hal-hal itu memang sering muncul dipikiran orang ketika mendengar kata Lampung. Nah disini gue mau cerita soal Lampung.
Menara Siger
Jadi, Lampung itu bukan hanya sekedar Gajah, Siger, Begal, atau Keripik pisang coklatnya ya. Ada banyak banget hal-hal menarik di Lampung dengan berbagai ciri khasnya.
Gue sendiri bukan orang Lampung asli, gue orang campuran yang rumit banget kalau dijelasin. Walau pun gue bukan orang Lampung asli, tapi gue fasih berbahasa Lampung beserta aksaranya karena gue sejak lahir hingga sekarang tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah orang Lampung Asli. Waktu SD sampai SMP nilai Mulok bahasa Lampung gue paling kecil itu 90, yang ini gak penting.
Penduduk di Lampung terdiri dari berbagai macam suku, artinya gak hanya orang Lampung aja. Hampir semua suku ada di Lampung. Mulai dari Jawa, Sunda, Batak, Palembang, Padang, Bugis, Bali, bahkan Cina dan mungkin masih banyak lagi suku yang belum gue tulis secara menyeluruh. Dengan berbagai macam suku yang ada di Lampung maka secara otomatis agama yang ada di Lampung juga bermacam-macam, semua agama ada disini. Maka dari itu ketika gue SMA mata pelajaran agama tuh ada banyak gurunya, dan gue setuju kalau Lampung ini merupakan miniaturnya Indonesia. Keanekaragaman suku dan agama ini yang membuat penduduk Lampung harus punya sikap toleransi yang tinggi.
Mungkin menurut orang lain yang belum terlalu kenal dengan orang Lampung pasti akan menilai orang Lampung itu galak. Mungkin iya, mukanya keliatan galak dan judes dengan logat Lampung yang nadanya agak tinggi, tapi kalau udah kenal sikapnya, orang Lampung itu baik, ramah, suka menolong, dan setia kawan. Kekeluargaan di Lampung itu masih kental banget. Buktinya tiap ada acara nikahan, khitanan, syukuran, dan sebagainya di Lampung itu gak terlalu butuh bayar Catering, juru masak, dan sebagainya. Penduduk sekitar secara beramai-ramai akan membantu mulai dari bikin bumbu, masak, bikin kue, bangun tenda, dan lain-lain sampai acaranya selesai. Umumnya orang Lampung itu punya ciri fisik putih, sipit, dengan rambut hitam dan lurus. Kalau ada yang item berarti dia sering kekebun dan bekerja keras mencari nafkah.
Tempat wisata di Lampung ada banyaaak banget. Mulai dari wisata pantai yang eksotis, gunung, air terjun, pemandian air belerang, way kambas dan masih banyak lagi yang bisa kalian cek sendiri dengan mengetik #eksplorelampung. Di Lampung itu ada banyak banget pantai, sampai-sampai di depan SMA gue aja pantai. Sebagai anak yang seneng keluyuran, semua pantai yang ada di daerah Bakauheni sampai ke Sidomulyo udah pernah gue datengin, gue sebutin pantai yang bagus-bagusnya nih seperti pantai Tanjung Tuha dan Minang Rua di Bakauheni. Pantai Kahai, Batu Lapis dan pulau Mengkudu yang hits banget ditahun 2015-2016, pantai wartawan, batu kapal, banding resort di daerah pesisir. Di sekitar Kalianda dan Sidomulyo ada Pantai Grand Elty Krakatoa, Merak Belantung, Marina, dan Teluk Nipah. Begitu juga air terjunnya ada air terjun way kalam, air terjun di daerah jati gue lupa namanya, air terjun di daerah totoharjo gue juga lupa namanya, dan Way Guyuran. Keluarga gue udah pernah ke Way Kambas, cuma gue doang yang belum. Soalnya waktu mereka kesana gue belum lahir huhuhu. Walaupun belum pernah kesana tapi gue pernah ngerasain rasanya naik Gajah, rasanya aneh tapi asik apalagi kalau gajahnya ditunggangin sambil goyang. Baru sebatas Bakauheni-Sidomulyo aja gue keluyurannya karena keterbatasan budget dan waktu.
Pantai tanjung tuha di Bakauheni
Lampung merupakan daerah yang banyak mengasilkan pisang, coba aja kalau liat mobil losbak muat pisang di jalan tol Merak-Jakarta pasti platnya BE, itu plat kendaraan di Lampung. Di kota kalianda angkot itu cuma ada dari jam 5 pagi sampe jam 5 sore doang, jadi kalau niat pengen pergi atau pulang malem mending bawa kendaraan sendiri dari pada gak bisa pergi dan gak bisa pulang. Tapi agak ngeri kalau mau berkendara malem-malem karena jalanannya mulai sepi dan kalian akan ngelewatin lahan kosong, sawah, hutan, atau kebun-kebun. Jalan-jalan di sini masih jarang dibangun rumah penduduk, boro-boro ruko.
Banyak orang non Lampung yang bilang bahasa Lampung itu susah buat dipahami apalagi diterjemahkan, dan logatnya sering diucapkan dengan nada tinggi. Jadi kadang orang suka salah paham kalau ngobrol sama orang Lampung, dikiranya marah padahal memang logatnya gitu. Kalau kalian mendengar ada orang ngomong “geh”, “kayak”, “kitaorang”, “kamuorang”, “diaorang”, percayalah mereka pasti dari Lampung. Sedikit gue kasih tau kata-kata yang pake bahasa Lampung. “nyak” artinya saya, “demon” artinya suka atau cinta, “jama” artinya dengan, “niku” artinya kamu. Jadi kalau gue bilang “nyak demon jama niku” itu artinya saya suka/cinta sama kamu. Gadis di Lampung disebut “Muli” sedangkan bujangannya disebut “Mekhanai”.
Kebanyakan pemuda-pemudi Lampung itu senang merantau. Biasanya mereka merantau ketika tamat SMA atau tamat Kuliah, dan akan pulang lagi ke Lampung dalam jangka waktu yang cukup lama. Merantaunya keberbagai daerah bahkan keluar negeri dengan tujuan yang bermacam-macam, ada yang kerja, menuntut ilmu, atau sekedar bantu bisnis saudara yang jauh disana. Jadi wajar kalau biasanya orang Lampung nikahnya sama orang luar daerah. Temu jodoh di daerah rantau cuy. Mungkin hal ini salah satu faktor penyebab keberagaman suku di daerah Lampung terlepas dari faktor imigrasi.
Makanan khas Lampung itu gak cuma kripik pisang coklat, ada yang lainnya juga seperti seruit atau orang Lampung biasa menyebutnya “pekhos iwa” yang artinya asem ikan atau ikan asem. Rasanya enak banget, tiap pulang dari daerah rantau gue selalu bikin seriut ini di rumah. Ada juga kue khas Lampung namanya “Juadah” atau orang Lampung biasa menyebutnya “Buak Balak” yang artinya “Kue besar”. Gue gak tau secara sejaranya kenapa diberi nama “buak balak” yang gue tau kue ini termasuk langka karena cuma bisa ditemukan ketika ada acara besar seperti nikahan, itu juga gak semua nikahan bikin kue “juadah” ini. Kue ini biasa digunakan sebagai makanan seserahan dalam acara nikahan. Selain untuk seserahan, kue ini juga akan dibagi-bagikan kesanaksaudara dan penduduk di sekitar tempat tinggal orang yang punya acara nikahan. Jadi kue ini harus dibuat dalam jumlah banyak. Pembuatannya juga lumayan lama dan dilakukan oleh banyak orang karena adonan yang dimasak di dalam wajan besar ini harus selalu diaduk dan membutuhkan tenaga pengaduk lebih dari satu orang. Juadah ini mirip dodol cuma warnanya gak coklat, warnanya tuh hijau kehitam-hitaman seperti warna cincau. Teksturnya lembut tapi kalau ditarik melar seperti adonan tepung sagu di Papua. Rasanya manis tapi gak semanis dodol pada umumnya, menurut gue sih manisnya pas dan enak bangeeet. Gue seneng banget kalau di kampung gue ada yang nikahan dan dapet juadah.
Seruit ala-ala buatan gue
Dalam acara pernikahan di Lampung selain mempelai wanitanya pakai “Siger”, ada juga kain khas Lampung yang dipakai namanya kain Tapis. Gue bangga karena beberapa waktu yang lalu Kain Tapis dan Siger yang digunakan oleh Ariska Putri mampu menjadikannya dan Indonesia sebagai Pemenang dalam Miss Grand Internasional.
Ada juga prosesi arak-arakan dimana sepasang pengantin diarak di dalam tandu yang berbeda diringi musik dan lagu adat Lampung beserta pemain tuping yang mengenakan topeng-topeng khas Lampung. Selama diarak ada penabur koin,permen, dan kemiri yang menaburkannya disepanjang rute arak-arakan nantinya akan ada banyak masyarakat khususnya anak-anak kecil yang memungut koin, permen, dan kemiri itu. Dulu waktu kecil gue sering ikut desek-desekan berebut koin sama temen-temen sekampung lumayan uangnya buat jajan cilor.
Cukup sekian aja tulisan gue tentang Lampung, masih ada banyak lagi hal-hal menarik dari Lampung yang belum mampu gue tulis. Mohon maaf kalau ada salah kata dan perbuatan, maaf kalau penulisannya kurang rapi, maklum baru belajar. Sejauh dan selama apapun pergi merantau, selalu ada saja hal yang dirindukan dari Lampung “Sang Bumi Khua Jukhai”.
Kalau mau nambahin, silahkan tambahkan dikolom komentar ya: )

