Sabtu, 25 November 2017

Beramal Melalui Ilmu


                Selamat hari Guru kepada seluruh guru di Indonesia khususnya guru-guru saya sejak SD-SMA, termasuk Dosen-dosen di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada kesempatan kali ini saya bukan ingin membahas bagaimana budi baik guru-guru saya, karena tulisan sebanyak apapun tak akan sanggup mewakili rasa terima kasih saya, dan tidak akan sanggup mewakili segala jasa-jasa guru selama ini. Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya menjadi guru.
                Liburan semester genap menuju semester ganjil merupakan liburan yang sangat membosankan, bagaimana tidak bosan jika liburnya hingga 3 bulan. Sebelum memasuki masa liburan itu saya sudah memikirkan hal-hal bermanfaat seperti apa yang bisa saya gunakan untuk mengisi hari-hari dalam 3 bulan tersebut. Setelah berdiskusi dengan sahabat saya akhirnya kami memutuskan untuk mengajar secara sukarela di sebuah Sekolah Dasar yang berada di desa sahabat saya itu. Sahabat saya berkuliah di Universitas Brawijaya Malang, ya anggap saja mengajar dalam Sekolah yang sama selama libur semester ini merupakan salah satu cara kami untuk mengamalkan ilmu yang selama ini kami dapat dan sebagai salah satu cara untuk kami melepas rindu, hingga bisa bercerita setiap hari selesai mengajar, kecuali hari minggu.

                Kami mengajar di kelas berbeda, dan kami mengajar disemua kelas dengan semua mata pelajaran secara rolling setiap harinya, dihari jumat kami mengikuti senam bersama dan mengikuti kegiatan kerja bakti sekolah. Selama mengajar saya jadi tau dan merasakan sendiri bagaimana lelahnya menjadi seorang guru khususnya guru Sekolah Dasar. Jam 7 pagi sudah disekolah mengajar anak-anak yang memang sedang aktif-aktifnya, bergerak kesana kemari, ada yang menjahili temannya, bahkan saat saya sedang menulis soal bahasa inggris di papan tulis tiba-tiba murid saya ada yang berkelahi. Saya lerai mereka dan saya tanya mengapa mereka berkelahi, salah satu yang menangis menjawab bahwa temannya telah memanggil dia dengan nama ayahnya. Sepele ya, namanya anak-anak ketika kita sudah dewasa, orang-orang yang memanggil kita dengan nama ayah kita, dialah teman paling peduli.
                Minggu pertama mengajar saya sangat merasa kelelahan, setiap pulang mengajar saya makan siang solat lalu tidur dan tak berdaya melakukan hal apapun lagi. Minggu kedua saat mendapatkan mengajar di kelas 1, 5, 6, saya batuk-batuk dan hampir kehilangan suara. Barulah diminggu ketika hingga seterusnya saya mulai terbiasa dan tidak terlalu kelelahan seperti sebelumnya.Mengajar yang paling melelahkan adalah saat mengajar siswa kelas 1 dan kelas 2, membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk mengajar anak-anak yang belum bisa baca tulis sedangkan mereka sulit berkonsentrasi dengan apa yang dijelaskan oleh gurunya karena mereka kadang asik bermain dan bergurau dengan sesama temannya.
                Sebisa mungkin saya membuat pembelajaran yang menarik sehingga selama saya mengajari mereka, perhatian mereka sepenuhnya pada saya, dan yap saya berhasil dengan bantuan beberapa gambar yang saya print out dihari sebelumnya dan kertas-kertas origami. Jadi saya menajanjikan pada mereka selesai belajar menulis membaca dan berhitung, saya akan mengajari mereka mewarnai dan melipat kertas origami. Siapa paling mempehatikan dan bisa menerima penjelasan bu guru dengan benar maka akan dibonusi kertas origami untuk dibawa pulang. Mereka-benar hening dan memperhatikan apa yang saya jelaskan. Di kelas 3 dan 4 saya membantu menghias kelas karena mereka bilang mereka senang menghias kelas untuk menghilangkan kejenuhan pada suasana ruang belajar mereka.
                Setiap selesai mengajar disatu kelas, saya meminta mereka untuk menulis di kertas yang berisi nama, cita-cita, dan penilaian terhadap saya. Cita-cita mereka hampir sama satu dengan yang lain, ingin jadi polisi, dokter, dan guru. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa masih banyak profesi-profesi lain yang bisa mereka jadikan sebagai cita-cita dan target mereka dalam mengemban pendidikan. Saya ceritakan bahwa cita-cita bisa saja berasal dari hobi, kalian yang hobi bermain bola bisa memiliki cita-cita menjadi pemain bola, bukan tidak mungkin kesuksesan yang mereka raih dari cita-cita yang muncul dari hobi tersebut itu melebihi cita-cita sebagai polisi atau yang lainnya. Saya menceritakan bahwa saya memilki cita-cita sebagai wirausahawan karena sejak seusia mereka saya sudah sering berjualan di sekolah. sedangkan sahabat saya bercita-cita ingin menjadi seorang penulis dan dia berhasil menjadi penulis. Novel pertamanya yang berjudul frame kehidupan berisi beberapa bagian dari persahabatan kami. Akhirnya cerita tentang saya ada didalam buku.


                Hingga tiba hari perpisahan dengan para siswa karena saya dan sahabat saya harus kembali ke rantauan untuk menjadi mahasiswa (kala itu). Kami mengucapkan kalimat perpisahan dan nasihat-nasihat untuk mereka pada saat sambutan upacara hari senin. Hari itu menjadi begitu haru, dan saya pun tak kuasa menahan air mata, kala murid-murid bersaliman dan menangis bahkan beberapa memeluk saya. Saya menangis manakala mereka juga menangis dan meminta saya juga sahabat saya untuk tetap mengajar mereka. Selesai melakukan perpisahan kecil yang mengharu biru, saya dan sahabat saya berpamitan pada guru-guru dan kepala sekolah tempat kami mengajar. Mengucapkan terimakasih atas kepercayaan pihak sekolah sehingga memberikan kesempatan kepada kami untuk merasakan menjadi seorang pendidik anak-anak, dan memiliki masa liburan produktif dengan kenangan yang begitu manis.

Faker

 Sore dibulan April tahun 2022, waktu lagi remuk hati dan pegel punggung, gue nyoba deh install dan login ke dating app. Dari beberapa yang ...