Selamat
hari Guru kepada seluruh guru di Indonesia khususnya guru-guru saya sejak
SD-SMA, termasuk Dosen-dosen di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada
kesempatan kali ini saya bukan ingin membahas bagaimana budi baik guru-guru
saya, karena tulisan sebanyak apapun tak akan sanggup mewakili rasa terima
kasih saya, dan tidak akan sanggup mewakili segala jasa-jasa guru selama ini. Saya
ingin bercerita tentang pengalaman saya menjadi guru.
Liburan
semester genap menuju semester ganjil merupakan liburan yang sangat
membosankan, bagaimana tidak bosan jika liburnya hingga 3 bulan. Sebelum memasuki
masa liburan itu saya sudah memikirkan hal-hal bermanfaat seperti apa yang bisa
saya gunakan untuk mengisi hari-hari dalam 3 bulan tersebut. Setelah berdiskusi
dengan sahabat saya akhirnya kami memutuskan untuk mengajar secara sukarela di sebuah
Sekolah Dasar yang berada di desa sahabat saya itu. Sahabat saya berkuliah di
Universitas Brawijaya Malang, ya anggap saja mengajar dalam Sekolah yang sama
selama libur semester ini merupakan salah satu cara kami untuk mengamalkan ilmu
yang selama ini kami dapat dan sebagai salah satu cara untuk kami melepas
rindu, hingga bisa bercerita setiap hari selesai mengajar, kecuali hari minggu.
Kami
mengajar di kelas berbeda, dan kami mengajar disemua kelas dengan semua mata
pelajaran secara rolling setiap harinya, dihari jumat kami mengikuti senam
bersama dan mengikuti kegiatan kerja bakti sekolah. Selama mengajar saya jadi
tau dan merasakan sendiri bagaimana lelahnya menjadi seorang guru khususnya
guru Sekolah Dasar. Jam 7 pagi sudah disekolah mengajar anak-anak yang memang
sedang aktif-aktifnya, bergerak kesana kemari, ada yang menjahili temannya, bahkan
saat saya sedang menulis soal bahasa inggris di papan tulis tiba-tiba murid
saya ada yang berkelahi. Saya lerai mereka dan saya tanya mengapa mereka
berkelahi, salah satu yang menangis menjawab bahwa temannya telah memanggil dia
dengan nama ayahnya. Sepele ya, namanya anak-anak ketika kita sudah dewasa,
orang-orang yang memanggil kita dengan nama ayah kita, dialah teman paling
peduli.
Minggu
pertama mengajar saya sangat merasa kelelahan, setiap pulang mengajar saya
makan siang solat lalu tidur dan tak berdaya melakukan hal apapun lagi. Minggu kedua
saat mendapatkan mengajar di kelas 1, 5, 6, saya batuk-batuk dan hampir kehilangan
suara. Barulah diminggu ketika hingga seterusnya saya mulai terbiasa dan tidak
terlalu kelelahan seperti sebelumnya.Mengajar yang paling melelahkan adalah
saat mengajar siswa kelas 1 dan kelas 2, membutuhkan kesabaran yang luar biasa
untuk mengajar anak-anak yang belum bisa baca tulis sedangkan mereka sulit
berkonsentrasi dengan apa yang dijelaskan oleh gurunya karena mereka kadang
asik bermain dan bergurau dengan sesama temannya.
Sebisa
mungkin saya membuat pembelajaran yang menarik sehingga selama saya mengajari
mereka, perhatian mereka sepenuhnya pada saya, dan yap saya berhasil dengan
bantuan beberapa gambar yang saya print out dihari sebelumnya dan kertas-kertas
origami. Jadi saya menajanjikan pada mereka selesai belajar menulis membaca dan
berhitung, saya akan mengajari mereka mewarnai dan melipat kertas origami. Siapa
paling mempehatikan dan bisa menerima penjelasan bu guru dengan benar maka akan
dibonusi kertas origami untuk dibawa pulang. Mereka-benar hening dan
memperhatikan apa yang saya jelaskan. Di kelas 3 dan 4 saya membantu menghias
kelas karena mereka bilang mereka senang menghias kelas untuk menghilangkan kejenuhan
pada suasana ruang belajar mereka.
Setiap
selesai mengajar disatu kelas, saya meminta mereka untuk menulis di kertas yang
berisi nama, cita-cita, dan penilaian terhadap saya. Cita-cita mereka hampir
sama satu dengan yang lain, ingin jadi polisi, dokter, dan guru. Saya menjelaskan
kepada mereka bahwa masih banyak profesi-profesi lain yang bisa mereka jadikan
sebagai cita-cita dan target mereka dalam mengemban pendidikan. Saya ceritakan
bahwa cita-cita bisa saja berasal dari hobi, kalian yang hobi bermain bola bisa
memiliki cita-cita menjadi pemain bola, bukan tidak mungkin kesuksesan yang
mereka raih dari cita-cita yang muncul dari hobi tersebut itu melebihi
cita-cita sebagai polisi atau yang lainnya. Saya menceritakan bahwa saya
memilki cita-cita sebagai wirausahawan karena sejak seusia mereka saya sudah
sering berjualan di sekolah. sedangkan sahabat saya bercita-cita ingin menjadi
seorang penulis dan dia berhasil menjadi penulis. Novel pertamanya yang
berjudul frame kehidupan berisi beberapa bagian dari persahabatan kami. Akhirnya
cerita tentang saya ada didalam buku.
Hingga
tiba hari perpisahan dengan para siswa karena saya dan sahabat saya harus
kembali ke rantauan untuk menjadi mahasiswa (kala itu). Kami mengucapkan
kalimat perpisahan dan nasihat-nasihat untuk mereka pada saat sambutan upacara
hari senin. Hari itu menjadi begitu haru, dan saya pun tak kuasa menahan air
mata, kala murid-murid bersaliman dan menangis bahkan beberapa memeluk saya. Saya
menangis manakala mereka juga menangis dan meminta saya juga sahabat saya untuk
tetap mengajar mereka. Selesai melakukan perpisahan kecil yang mengharu biru,
saya dan sahabat saya berpamitan pada guru-guru dan kepala sekolah tempat kami
mengajar. Mengucapkan terimakasih atas kepercayaan pihak sekolah sehingga
memberikan kesempatan kepada kami untuk merasakan menjadi seorang pendidik anak-anak,
dan memiliki masa liburan produktif dengan kenangan yang begitu manis.

