Jumat, 30 Maret 2018

Grand Canyon Banten

Hai sobat,  apa kabar? Hari ini saya akan menceritakan kepada kalian satu tempat yang sangat indah di Banten.  Bagi sebagian orang akan mengingat debus, ziarah, dan pantai anyer ketika mengatakan tentang Banten. Benar adanya Banten memiliki budaya yang begitu unik yaitu Debus Banten dan budaya Ziarah ke makam leluhur yang terletak di Masjid Banten Lama. Sedangkan dalam hal lokasi wisata sudah pasti Pantai Anyer jadi destinasi pengunjung. Bagi kalian yang akan berpergian ke pantai carita ngga ada salahnya mampir ke grand canyonnya banten, yaitu Curug Putri.  

Curug Putri terletak di Taman Hutan Raya (Tahura) Carita. Rute menuju curug ini ada dua, pertama, Jakarta-Tangerang-Serang-Cilegon-Anyer-Carita. Kedua, Jakarta-Tangerang-Serang-Pandeglang-Carita jaraknya ngga terlalu jauh sama pantai carita, sayangkan kalo ngga sekalian mampir.
Curug Putri merupakan aliran air dari hulu ke hilir yang begitu deras diapit oleh tebing batu yang begitu eksotis. Disana kalian akan merasakan pecikan air terjun yang cukup sejuk mengenai muka. Oh iya, sedikit gambaran disana terdapat tebing yang tingginya sekitar 5 meter. Tebing tersebut saling berhadapan sehingga membentuk aliran arus yang tidak begitu deras dengan air berwarna hijau kebiruan pada musim panas. Dialiran air ini kita bisa berseluncur bersama teman-teman didasar curug yang memang berbatu namun aman. kedalaman airnya ada yang sampai 3 meter, tapi kalian ngga usah khawatir karena terdapat tali pengaman, pelampung dan kalian juga akan ditemani oleh seorang guide, asik kan!

Kita bisa kesana dengan naik motor atau mobil. Di tempat penitipan motor kita membayar kepada pengelola sebesar 15 ribu rupiah per motor. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 jam memasuki hutan yang sudah ada jalurnya. Jika sedang beruntung kita bisa bertemu dengan sekumpulan kera yang sedang mencari makan.  Sekitar 30 menit perjalanan kita akan bertemu dengan Curug Gendang. Curug yang airnya berasal dari Curug Putri. Setelah 15 menit perjalanan dari Curug Gendang, tibalah kita di titik kumpul Curug Putri. Di titik ini ada pos yang akan menjadi tempat penitipan sepatu, sendal, dompet, handphone, dan barang berharga lainnya dengan membayar 10 ribu per orang. Barang titipan ini akan diletakkan di trash bag yang dilebeli nama pemiliknya. Biaya tersebut sudah termasuk tour guide yang akan menjaga kita dan pelampung per orang. Di pos ini juga kita akan ditawari kantung anti air untuk Handphone yang akan kita gunakan berswafoto di Curug Putri. 
Perjalanan dilanjutkan lagi dari pos penitipan menuju Curug Putri sekitar 15 menit. Perjalanan ini sepenuhnya kita tempuh di aliran air jadi siap basah-basahan. Seru kan!

  Sekedar informasi ya sobat, Curug Putri merupakan salah satu objek wisata favorite di Banten yang sudah dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah. Sehingga mengenai keamanan dan kebersihan sudah tidak menjadi permasalahan. Selain perhatian dari pemerintah, hendaknya kita sebagai pengunjung juga memiliki kesadaran penuh akan pentingnya menjaga kebersihan, agar tempat-tempat wisata yang indah ini bisa tetap lestari dan tetap indah. Mari jadi pengunjung yang cinta terhadap lingkungan dengan selalu menjaga kebersihan.
 Selamat berlibur.

Eksotisme Pantai Tapak Kera


Pantai ini berada di Merak Belantung Lampung Selatan, berjarak sekitar 20 kilo meter dari pusat kota Kalianda. membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari pelabuhan Bakauheni untuk sampai ke pantai ini. Biaya masuk pantai ini hanya Rp. 10.000 per motor, cukup biaya parkir, tidak ada biaya lain seperti biaya guide atau biaya kebersihan. Akan tetapi dari tempat parkir motor, kita perlu berjalan kaki sekitar 20 menit untuk sampai ke Pantai. Saya tidak tau secara pasti mengapa pantai ini diberi nama pantai Tapak Kera. Mungkin karena jalan menuju pantai melewati hutan dan sesekali ditemui beberapa ekor kera sedang mencari makan yang jika hujan turun, jalan akan becek sehingga meninggalkan jejak bagi yang melintas maka pantai ini dinamai pantai Tapak Kera. Entah lah, saya hanya mengira-ngira.

Ketenangan dan kejernihan Pantai Tapak Kera

Pantai ini belum terlalu dikenal oleh publik, nama Pantai Tapak Kera belum setenar pantai Kuta Bali atau Pantai Anyer. Namun jika saya menceritakan tentang keindahan pantai ini, maka keindahannya tak kalah dengan pantai-pantai terkenal lainnya di Indonesia. Pantai Tapak Kera ini berada jauh dari jalan utama (jalan trans sumatera), lagi-lagi masalah akses jalan yang menjadi kendala sehingga pantai ini sangat jarang di kunjungi. Tapi justru saya merasa sangat senang berada di pantai yang sepi pengunjung ini, datang kembali, lagi dan lagi. Pantai ini benar-benar memanjakan mata, debur ombak yang kencang, angin pantai yang membawa kesejukan, dan jajaran batu besar yang mempertegas setiap gelombang ombak yang menghempasnya.

Ombak menghempas Batuan
Pantai Tapak Kera yang sepi pengunjung ini bersih alias bebas sampah, ini salah satu yang mebuat saya merasa nyaman. Saat ini, mulai banyak tempat-tempat wisata seperti Pantai, air terjun, dan Gunung yang ramai pengunjungnya justru mengotori keindahan tempat wisata tersebut dengan sampah-sampah botol minuman dan kemasan plastik dari makanan ringan yang mereka bawa dan dibuang, ditinggalkan begitu saja. Tingginya antusias masyarakat terhadap tempat-tempat wisata yang indah dan eksotis, tidak berbanding lurus dengan kesadaran terhadap lingkungan di sekitarnya. Jadi, kurang tereksposenya pantai  ini memiliki kelebihan menurut saya karena kebersihannya terjaga, dan jauh dari segala bentuk kebisingan.


Air Terjun Way Tayas (Kesejukan dari Gunung Rajabasa)


Gunung Rajabasa adalah gunung yang berada di Provinsi Lampung. Meski pun tingginya kurang dari 2000 MDPL (Meter Dari Permukaan Laut) tapi gunung ini sudah sering didaki oleh para hiker, baik dari Lampung maupun dari luar Lampung. Dataran Tinggi Gunung Rajabasa banyak ditumbuhi oleh tanaman perkebunan yang menjadi komoditi-komoditi andala Kabupaten Lampung Selatan seperti Kopi, Kakao, dan Cengkeh. Meski pun submit dari gunung Rajabasa tidak menyuguhkan pesona negeri di atas awan. Namun, suasana hutan yang begitu rindang dengan suara beberapa burung dan serangga membuat pikiran menjadi tenang. Setengah perjalanan menuju puncak akan ada air terjun Way Tayas yang wajib untuk coba airnya untuk menyejukkan kulit, pikiran, hati dan tenggorokan.


Kesunyian Air terjun Way Tayas

Air terjun ini berada di desa Sukaraja dusun Pangkul Kecamatan Rajabasa, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Kota Kalianda untuk tiba di Air Terjun ini. Dari 5 lokasi air terjun yang pernah saya singgahi di Lampung Selatan, air terjun Way Tayas yang paling memberi kesan. Hal ini disebabkan karena jalurnya yang begitu ekstrim namun tidak mengecewakan. Jalur dari gang masuk menuju air terjun masih berkerikil kecil, ada beberapa bagian yang sudah di cor, namun ada juga yang masih tanah merah. Saya kesana waktu itu saat musim hujan jadi jalan yang masih tanah merah begitu licin untuk dilalui. Jalur awal masih bisa menggunakan kendaraan roda empat namun semakin ke dalam jalan menyempit dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Ada banyak sekali tanjakan dan turunan yang sertai dengan tikungan maka harus menggunakan motor yang sehat dan dikendarai oleh orang yang sudah mahir. Jika kendaraan dan yang mengendarai tidak mempuni maka akan jadi bahaya.
Di ujung jalan ada pos penitipan motor dengan sebuah warung klontongan yang menjual mie instan, air minum kemasan, minuman hangat, dan gorengan. Warung ini begitu sederhana dan terletak di antara pohon-pohon Kakao. Dari tempat penitipan motor ini, perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Perjalanan ini dilalui dalam rimbunnya hutan di gunung Rajabasa, setelah itu maka akan tibalah pada ditempat yang dituju yaitu air terjun Way Tayas. 

Selain jalur yang lebih ekstrim dari jalur air terjun lainnya, menurut saya air terjun Way Tayas merupakan air terjun tertinggi dari 4 air terjun lainnya yang pernah saya kunjungi di Lampung Selatan. Jaraknya pun merupakan yang terjauh dari 4 air terjun lainnya (Way Guyuran, Air Terjun Sarmun, Air terjun Way Kalam, dan Air Terjun Jati) sebab letaknya yang berada di setengah ketinggian Gunung Rajabasa. Jaraknya yang jauh dan jalurnya yang ekstrim menjadikan air terjun ini tak seramai 4 air terjun lainnya. Jumlah pengunjung yang tidak terlalu ramai selalu membawa dampak baik dalam hal kebersihan untuk lokasi wisata alam seperti air terjun.


Rasa Bahagia Pengunjung

Pantai Tanjung Tuha



Berada paling ujung pulau Sumatera menjadikan pantai ini begitu mempesona. Hamparan laut luas membiru, seperti tak berujung saat mata menikmatinya. Bukit-bukit di pinggiran pantai menjadi pembatas yang nyata antara darat, pantai, dan lautan. Pantai Tanjung Tuha adalah salah satu pantai yang indah di kabupaten Lampung selatan, jaraknya paling dekat dengan pelabuhan Bakauheni. Membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari pelabuhan Bakauheni menuju pantai ini. Jalannya yang sempit, menanjak dan berkelok membuat kita harus berhati-hati. Jarak dari pelabuhan ke jalan kecil (gang) menuju pantai tanjung tuha ini hanya sekitar 2 KM. Namun dari depan gang menuju pantai lumayan banyak memakan waktu. Setelah memasuki gang yang bertuliskan “Lokasi Wisata Pantai Tanjung Tuha”, kita akan melewati proyek pembangunan jalan tol Sumatera, kemudian melewati perkampungan yang berkat dukungan pemerintah beberapa jalan di desa sudah diperbaiki dengan Coran. Semakin dalam memasuki gang maka jalan akan semakin sempit dan hanya dapat dilalui oleh 1 motor. Jika ada motor lain dari arah yang berbeda maka salah satu harus mengalah.

Meskipun butuh banyak perjuangan untuk menjangkaunya, pemandangan di pantai ini tidak akan mengecewakan dan pasti lelah akan terbayarkan oleh suguhan salah satu keindahan ciptaan dari Allah SWT. Pantai ini memiliki air yang jernih dan ombak yang tenang sehingga sangat bisa digunakan untuk berenang atau menyelam. Pantai ini mulai dikunjungi pada tahun 2014 dan semakin ramai hingga tahun 2017 ini. Kerjasama yang baik antara pengelola dengan pedagang disekitar pantai menjadikan pantai ini tetap bersih. Banyak Bale-bale bambu yang disediakan pengelola untuk membuat pengunjung merasa nyaman berada di pantai ini. Tempat sampah tersedia di dekat-dekat warung kelontongan pinggir pantai. Bagi para backpaker, lokasi pantai ini bisa dijadikan destinasi saat berkunjung ke gerbang Sumatera. 


Salah satu bale di atas air sebagai tempat untuk berfoto


Pemandangan bukit dan tebing batu dari atas menara

Terdapat 2 lokasi yang menjadi daya tarik pantai Tanjung Tuha adalah menara dan tebing batu yang berada di ujung-ujung pantai. Menara ini bisa dinaiki maksimal oleh 4 orang, dari atas menara ini kita akan melihat dengan jelas jajaran bukit yang bertemu dengan pantai dan lautan, kita juga dapat melihat tebing batu yang bagian atasnya ditumbuhi pepohonan. Sebaliknya di atas tebing batu kita bisa berhadapan langsung dengan lautan yang luas membiru, dan jernih. Selain itu dari atas tebing batu juga kita bisa melihat menara putih yang berdiri diatas salah satu bukit. Sayangnya, kebersihan dikedua lokasi ini luput dari perhatian pengelola, menara di ujung pantai yang biasa dinaiki pengunjung untuk memandangi pantai dari ketinggian, kotor karena sampah botol plastik dan kemasan makanan ringan yang dibawa pengunjung. Tak berbeda dengan lokasi di sekitar menara, lokasi tebing batu yang berada di sisi lain dari pantai Tanjung Tuha juga sama kotornya.

Menjaga kebersihan lingkungan sekitar terutama kebersihan dilokasi-lokasi wisata sebenarnya tidak bisa sepenuhnya kita serahkan pada petugas pengelola saja. Meski pun kita telah membayar tiket masuk dan uang kebersihan, sebagai manusia ciptaan Allah yang dianugerahi akal pikiran harusnya kita memiliki kesadaran dan bertindak lebih peduli pada kebersihan dan keselamatan Bumi tempat kita, dan anak cucu kita tinggal, hidup juga mati. Bukankah Manusia adalah khalifah di bumi? Atau mungkin mereka yang belum memiliki kesadaran terhadap kebersihan adalah khalifah yang membawa kerusakan di bumi? Wallahu’alam. 


Pemandangan kebun jagung dari atas menara

Lokasi tebing batu di pantai ini selain digunakan oleh pengunjung juga digunakan oleh masyarakat sekitar untuk memancing ikan, cumi dan kepiting. 


Tebing batu sebagai lokasi memancing

Jumat, 16 Maret 2018

Setelah Logika Kembali

Gue sepakat dengan pepatah yang menyatakan bahwa "jatuh cinta kadang membodohi diri sendiri". Jatuh cinta itu seperti mengkonsumsi MSG, candunya bikin bodoh, dan gue pernah jatuh cinta seperti manusia kebanyakan yang logikanya tidak bekerja sepenuhnya. Terbilang sudah satu periode masa kepresidenan, gue memilih manjadi Quirky Alone tapi bukan berarti gue tuna asmara dan lumpuh perasaan. Satu periode kepresidenan itu gue isi dengan PDKT, sekedar PDKT. Pada dasarnya gue adalah orang yang mudah ilfeel dan mudah bosan pada hal-hal tertentu. Jadi setiap suka atau PDKT gak pernah lebih dari 3 bulan. 


  • Gue cerita tentang macam-macam orangnya. Pernah PDKT sama orang yang romantis, awal-awal gue seneng. Tapi lama-lama jadi risih, karena romantisnya bikin muak, ditambah posesif, padahal status masih temen, lebih-lebih mulutnya kek cerobong pabrik, kerudung sama baju gue bau asep tiap abis ketemu dia. Karena gue lebih sayang diri gue sendiri ketimbang dia, gue memilih menjauh lalu menghilang karena gue gamau nanti kena penyakit dan bermasalah dibagian paru-paru. Ada yang baru sebulan PDKT nanyain temen gue mulu, dia pikir gue mediator? Bisa dirasukin terus menyampaikan segala hal yang mau dia sampein ketemen gue lewat gue, lah "aing saha? Aing maung". Ketiga PDKT sama orang yang bentar-bentar bahas nikah, lagi nguap aja bahas nikah, bersin bahas nikah, laper bahas nikah. Dia mendekati wanita yang salah, karena keinginan gue buat nikah masih jauh. Meskipun kadang suka pengen nikah kalau lagi kondangan, tapi itu cuma keinginan sesaat dan gak pernah gue suarakan. Kalau beres kondangan perut gue udah laper lagi, gue udah gak mikir pengen nikah, ya secepat itu. Lagi pula waktu itu gue masih 20 taun dan masih kuliah, gue bukan wanita yang merong-rong "nikahin adek bang" dan bukan orang yang memegang prinsip "tinggalkan atau halalkan". Menurut gue kalau bisa jadi teman dan membuat hal-hal yang baik, tidak merugikan diri sendiri, orang lain, maupun masyarakat, untuk apa ditinggal tinggalin. Gue juga bukan orang yang selalu membuat pernyataan "halalin adek bang", karena kompisi gue gak sama dengan khamr, anjing atau babi (Sorry ,gak maksud ngomong kasar). Ya pemahaman "halalin adek bang" itu sebenernya gak gitu sih, maksud sebenarnya biar halal kalau disentuh.

Dulu dulu banget pernah punya orang yang bisa dianggap penting. Selalu jadi prioritas, karena dia baik, selalu nurutin apapun mau gue, lucu, tidak merokok, tidak meninggalkan solat, dan tidak berlebihan, pokoknya tipe gue banget, bonusnya dia ganteng juga tajir. Setahun kurang lebihnya kemana-mana bareng dan komunikasi gak putus-putus, so far dia sopan. Ini PDKT terlama dan gue sempet optimis sama orang ini. Hingga ada 1 kejadian yang langsung bikin gue berani mengambil keputusan untuk udahan aja. Jadi ceritanya pulang nonton yang midnight, gang masuk ke kosan gue selalu becek tiap abis ujan. Dia nurunin gue di depan gang dan bilang takut motor (63 juta) nya kotor. Anj, emosi gue meledak, gue sepak motornya. Gue jalan sendiri masuk gang, hampir dini hari gelap. Dari jauh masih sempet-sempetnya bilang "Ciye Ngambek". Sumpah dalam hati gue pengen lari balik lagi ngeleperin tanah basah ke motor sama mulutnya. Tapi gue lebih milih lari ke arah kosan, syukur-syukur gak dicegat orang jahat dan gak dapet say hai dari mba kunti karena kosan gue yang dulu lewatin rawa-rawa terus depan kosan banyak pohon pisang. Meskipun notabennya gue ikut bela diri, gue tetep aja bakal kalah kalau kudu ngelawan 2 pria dewasa. 

Setelah kejadian itu gue ilfeel tapi namanya masih cinta gue membaik beberapa hari kemudian (kebodohan sudah terjadi). Salah satu benefit punya sahabat cowo, logika gue kembali diaktifin. Kawan gue tanpa lelah menyadarkan bahwa memang udah waktunya gue untuk bener-bener ninggalin dia. Karena semakin lama tingkahnya semakin semau-maunya, semakin "Casanova". Setelah logika gue kembali aktif, gue baru sadar bahwa kejadian itu membuat gue merasa terhina, merasa direndahkan, gue sebagai wanita gak lebih dari harga motor tinja, bahkan gak lebih dari harga steam motor. Setiap kali gue liat dia atau papasan sama dia gue selalu mencoba menghindar, karena gue tau banget dia pasti bakal nyapa gue dengan sok asik. Ketika tanpa sadar dan tidak sempat ancang-ancang kabur, dia berhasil nyapa, tapi gue selalu membalas sinis. Benci? Iya benci, tapi gue tidak mendendam. Hanya muak dan gak tau bagaimana respon terbaik untuk menanggapi orang yang memuakkan. Memang sih kita gak boleh langsung menjudge orang buruk hanya dengan satu kesalahan yang pernah dibuat. Tapi entahlah, pokoknya muak. 

Hidup gue kembali normal setelah mendapatkan kembali logika gue yang sempat koma dalam beberapa kurun waktu. Setelah logika gue kembali aktif, gue sudah tidak lagi memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan, tidak lagi membuat rumit sesuatu yang tidak perlu jadi rumit. Setelah logika gue kembali aktif, gue hanya butuh lelaki yang benar-benar sayang, tidak pelit, menghormati gue sebagai wanita dan melindungi gue dari apa pun termasuk melindungi dari dosa meskipun manusia tempatnya salah dan dosa. Setelah logika gue kembali aktif, gue menyadari bahwa tampan bukan segalanya, tertulis dari buku yang pernah gue baca dan gue lupa judulnya bahwa "Tampan hanya lah sedikit dari belas kasih Tuhan, Tampan bukanlah suatu pencapaian dari suatu usaha jadi tidak perlu dibanggakan." 

Faker

 Sore dibulan April tahun 2022, waktu lagi remuk hati dan pegel punggung, gue nyoba deh install dan login ke dating app. Dari beberapa yang ...