Jumat, 16 Maret 2018

Setelah Logika Kembali

Gue sepakat dengan pepatah yang menyatakan bahwa "jatuh cinta kadang membodohi diri sendiri". Jatuh cinta itu seperti mengkonsumsi MSG, candunya bikin bodoh, dan gue pernah jatuh cinta seperti manusia kebanyakan yang logikanya tidak bekerja sepenuhnya. Terbilang sudah satu periode masa kepresidenan, gue memilih manjadi Quirky Alone tapi bukan berarti gue tuna asmara dan lumpuh perasaan. Satu periode kepresidenan itu gue isi dengan PDKT, sekedar PDKT. Pada dasarnya gue adalah orang yang mudah ilfeel dan mudah bosan pada hal-hal tertentu. Jadi setiap suka atau PDKT gak pernah lebih dari 3 bulan. 


  • Gue cerita tentang macam-macam orangnya. Pernah PDKT sama orang yang romantis, awal-awal gue seneng. Tapi lama-lama jadi risih, karena romantisnya bikin muak, ditambah posesif, padahal status masih temen, lebih-lebih mulutnya kek cerobong pabrik, kerudung sama baju gue bau asep tiap abis ketemu dia. Karena gue lebih sayang diri gue sendiri ketimbang dia, gue memilih menjauh lalu menghilang karena gue gamau nanti kena penyakit dan bermasalah dibagian paru-paru. Ada yang baru sebulan PDKT nanyain temen gue mulu, dia pikir gue mediator? Bisa dirasukin terus menyampaikan segala hal yang mau dia sampein ketemen gue lewat gue, lah "aing saha? Aing maung". Ketiga PDKT sama orang yang bentar-bentar bahas nikah, lagi nguap aja bahas nikah, bersin bahas nikah, laper bahas nikah. Dia mendekati wanita yang salah, karena keinginan gue buat nikah masih jauh. Meskipun kadang suka pengen nikah kalau lagi kondangan, tapi itu cuma keinginan sesaat dan gak pernah gue suarakan. Kalau beres kondangan perut gue udah laper lagi, gue udah gak mikir pengen nikah, ya secepat itu. Lagi pula waktu itu gue masih 20 taun dan masih kuliah, gue bukan wanita yang merong-rong "nikahin adek bang" dan bukan orang yang memegang prinsip "tinggalkan atau halalkan". Menurut gue kalau bisa jadi teman dan membuat hal-hal yang baik, tidak merugikan diri sendiri, orang lain, maupun masyarakat, untuk apa ditinggal tinggalin. Gue juga bukan orang yang selalu membuat pernyataan "halalin adek bang", karena kompisi gue gak sama dengan khamr, anjing atau babi (Sorry ,gak maksud ngomong kasar). Ya pemahaman "halalin adek bang" itu sebenernya gak gitu sih, maksud sebenarnya biar halal kalau disentuh.

Dulu dulu banget pernah punya orang yang bisa dianggap penting. Selalu jadi prioritas, karena dia baik, selalu nurutin apapun mau gue, lucu, tidak merokok, tidak meninggalkan solat, dan tidak berlebihan, pokoknya tipe gue banget, bonusnya dia ganteng juga tajir. Setahun kurang lebihnya kemana-mana bareng dan komunikasi gak putus-putus, so far dia sopan. Ini PDKT terlama dan gue sempet optimis sama orang ini. Hingga ada 1 kejadian yang langsung bikin gue berani mengambil keputusan untuk udahan aja. Jadi ceritanya pulang nonton yang midnight, gang masuk ke kosan gue selalu becek tiap abis ujan. Dia nurunin gue di depan gang dan bilang takut motor (63 juta) nya kotor. Anj, emosi gue meledak, gue sepak motornya. Gue jalan sendiri masuk gang, hampir dini hari gelap. Dari jauh masih sempet-sempetnya bilang "Ciye Ngambek". Sumpah dalam hati gue pengen lari balik lagi ngeleperin tanah basah ke motor sama mulutnya. Tapi gue lebih milih lari ke arah kosan, syukur-syukur gak dicegat orang jahat dan gak dapet say hai dari mba kunti karena kosan gue yang dulu lewatin rawa-rawa terus depan kosan banyak pohon pisang. Meskipun notabennya gue ikut bela diri, gue tetep aja bakal kalah kalau kudu ngelawan 2 pria dewasa. 

Setelah kejadian itu gue ilfeel tapi namanya masih cinta gue membaik beberapa hari kemudian (kebodohan sudah terjadi). Salah satu benefit punya sahabat cowo, logika gue kembali diaktifin. Kawan gue tanpa lelah menyadarkan bahwa memang udah waktunya gue untuk bener-bener ninggalin dia. Karena semakin lama tingkahnya semakin semau-maunya, semakin "Casanova". Setelah logika gue kembali aktif, gue baru sadar bahwa kejadian itu membuat gue merasa terhina, merasa direndahkan, gue sebagai wanita gak lebih dari harga motor tinja, bahkan gak lebih dari harga steam motor. Setiap kali gue liat dia atau papasan sama dia gue selalu mencoba menghindar, karena gue tau banget dia pasti bakal nyapa gue dengan sok asik. Ketika tanpa sadar dan tidak sempat ancang-ancang kabur, dia berhasil nyapa, tapi gue selalu membalas sinis. Benci? Iya benci, tapi gue tidak mendendam. Hanya muak dan gak tau bagaimana respon terbaik untuk menanggapi orang yang memuakkan. Memang sih kita gak boleh langsung menjudge orang buruk hanya dengan satu kesalahan yang pernah dibuat. Tapi entahlah, pokoknya muak. 

Hidup gue kembali normal setelah mendapatkan kembali logika gue yang sempat koma dalam beberapa kurun waktu. Setelah logika gue kembali aktif, gue sudah tidak lagi memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan, tidak lagi membuat rumit sesuatu yang tidak perlu jadi rumit. Setelah logika gue kembali aktif, gue hanya butuh lelaki yang benar-benar sayang, tidak pelit, menghormati gue sebagai wanita dan melindungi gue dari apa pun termasuk melindungi dari dosa meskipun manusia tempatnya salah dan dosa. Setelah logika gue kembali aktif, gue menyadari bahwa tampan bukan segalanya, tertulis dari buku yang pernah gue baca dan gue lupa judulnya bahwa "Tampan hanya lah sedikit dari belas kasih Tuhan, Tampan bukanlah suatu pencapaian dari suatu usaha jadi tidak perlu dibanggakan." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Faker

 Sore dibulan April tahun 2022, waktu lagi remuk hati dan pegel punggung, gue nyoba deh install dan login ke dating app. Dari beberapa yang ...