3/11/18, Sabtu pagi ku disibukkan dengan mengemas beberapa lembar pakaianku ke dalam koper yang baru saja ku beli tadi malam. Koperku yang sebelumnya terlalu kecil untuk mengemas segala keperluanku. Sore dihimpun rasa lelah, rasa sedih, rasa bahagia, dan harapan-harapan. Ya, aku lah manusia penuh mimpi, penuh do'a dan usaha yang menerima apa pun hasilnya. Hidup dengan prinsip 60% doa, 40% usaha.
Do'a dari diri sendiri, dari orang tua, dari keluarga, dan orang-orang tercinta. Hari itu hari-hari terakhirku di kota Tangerang Selatan, setelah 5 Minggu berada dalam mess, training in class. Belajar, berdoa, dan berdoa. Satu do'a ku, do'a orang tua, do'a keluarga, dan do'a orang-orang tercinta didengar oleh Allah, aku berhasil melanjutkan usaha dari in class training ke tahap berikutnya.
Minggu dini hari mata sengaja tidak ku pejamkan, aku khawatir tidur dalam keadaan lelah membuat ku lelap melewati malam dan jadwal pesawat. Jam 3 pagi, kota Tangerang Selatan terlihat sepi, dinginnya sepertiga malam tidak mampu menahan lelehan air mata teman-temanku khususnya teman sekamarku yang biasa menyebutku sebagai "mood booster" ketika mengantarku. Ya, perpisahan selalu menyedihkan, meski aku tidak pernah berurai air mata, percayalah aku juga sedih.
Minggu siang, setelah 2 jam mengudara dari bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Tibalah aku di kota Balikpapan Kalimantan timur, jauh dari rumah, jauh dari keluarga, jauh dari teman, dan belum mengenal siapa pun. Ku cari handphone ku dan kuhubungi pria yang akan menjemputku, mereka datang berdua. Mereka orang pertama dan kedua yang ku kenal di kota ini.
Sejak kuliah, aku memang menantang diri ku sendiri untuk melakukan perantauan ke pulau Borneo ini. Ingin merasakan panasnya matahari dari garis khatulistiwa, ingin melangkahkan kaki di tanah tambang, ingin menghirup udara di daratan terluas ketiga di dunia. Saat itu aku tidak optimis, aku paham betul protektifnya orang tuaku, aku pasti tidak akan dapat izin. Benar saja, hasil penempatan ke Balikpapan ini butuh penjelasan dan komitmen yang benar-benar sulit. Butuh negosiasi yang lama sekali untuk meluluhkan hati dan pikiran papa yang dipenuhi rasa khawatir pada anak perempuan bungsunya yang "manly".
Terdengar suara sedih mama dan papa. Aku terus meyakinkan, semua akan baik-baik saja, dan air mata mulai berurai saat papa membekali sekotak obat lengkap dengan koyo, plester, kapas dan obat merah, lalu aku tertawa karena merasa seperti akan pergi perang. Meski anaknya jarang sakit, papa bilang "jangan sakit".
Entah apa rencana dari Allah atas penempatan yang sangat jauh ini. Tentunya ini adalah satu keinginanku dimasa lalu yang terkabul, meski berat, ini akan membuat ku lebih kuat menahan rindu pada keluarga dari perantauan di kota sebelumnya.
Mungkin ada sesuatu yang akan menjadi jawaban atas segala doa yang sudah lama belum terkabul. Mungkin ada sesuatu yang akan mengubah hidupku, yang jelas akan ada banyak cerita yang nantinya akan aku bawa pulang, akan ada rindu yang baru ketika suatu hari nanti aku pindah atau pulang dari kota ini. Aku suka kota ini, aku mendapatkan kenyamanan seperti di tempat-tempat sebelumnya, aku mendapatkan kebahagiaan setiap hari dari orang-orang disini. Mama berpesan "terus jadi orang jujur".
